Kata Ichwan, Manuskrip ini memiliki iluminasi yang indah, memiliki kolopon walaupun tidak lengkap, juga memiliki tanda air atau watermark.
Manuskrip ini, sambung dia, merupakan warisan seorang ulama Islam Batak asal Manduamas yang sudah meninggal, dan kini dipegang oleh ahli warisnya, bersama peninggalan peninggalannya yang lain, juga terdapat berbagai kalender dan peralatan ritual terbuat dari bambu beraksara Batak.
"Tim ahli manuskrip kuno kami sedang mengkaji berbagai aspek temuan ini. Bagi yang berminat menyaksikan dan mendengar diskusi tentang manuskrip ini silakan datang tanggal 21-22 September 2019 dalam rangka peresmian Museum Sejarah Alquran Sumatera Utara, Gedung Serbaguna Pemprov Sumut Jalan Williem Iskandar Medan," tutupnya.