IDN Times/Gideon Aritonang
Saat menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Sumatera Utara sejak 2001 dengan biaya sendiri, Maruli Juara Aritonang sempat putus asa dan berniat berhenti kuliah.
Ia merasa tidak sanggup dan berkali-kali juga telah melayangkan surat pengunduran diri sebagai mahasiswa ke pihak kampus. Namun usahanya itu ditolak, sehingga Maruli lebih memilih mengambil cuti.
Tahun 2004 masyarakat Aceh tertimpa musibah. Ratusan nyawa melayang saat bencana tsunami menerpa kota Serambi Mekah itu. Mendapat panggilan jiwa untuk berbuat, Maruli pun berangkat sebagai relawan di Aceh bagian barat.
Saat menjadi relawan dengan status mahasiswa kedokteran, Maruli bertemu dengan seseorang yang memiliki yayasan khusus disabilitas. Ia pun memantapkan diri merawat anak berkebutuhan khusus di yayasan tersebut.
Kurang lebih selama empat bulan menjadi relawan di lingkungan penderita disabilitas, Maruli mendapat banyak pengalaman berharga. Ia melihat jika anak-anak itu memiliki kekurangan tapi masih bisa berjuang agar dapat beraktivitas layaknya anak normal.
"Di situ saya merasa terpukul. Mereka yang tidak memiliki kekurangan di kaki tapi berjuang untuk tetap jalan. Saya sendiri yang normal, tapi merasa tidak sanggup hanya melanjutkan kuliah saja," katanya.