Salah seorang ibu yang diamankan, Efi Sanora Sihombing (28) ketika ditanyai mengaku terpaksa mengajak buah hatinya SIJ (6) dan QW (2) mengemis. Alasanya demi menutupi kebutuhan keluarga.
"Saya dulu bekerja di rumah makan dan anak dititipkan. Tapi, pada saat bermain, anak saya tidak sengaja menusuk mata temannya. Jadi pendapatan kerja habis buat ganti rugi," katanya.
"Semenjak kejadian itu saya tidak bekerja dan fokus menjaga anak. Tapi, lantaran tak ada pendapatan saya coba-coba jadi pengemis. Karena kalau mengandalkan pendapatan suami yang merantau dan dua bulan sekali baru pulang, tak cukup," sambungnya.
Efi mengaku sudah dua bulan mengemis. Dia berangkat dari rumah dari pukul 18.00 WIB dan pulangnya sekitar pukul 22.00 WIB. "Sehari dapatlah Rp 30-50 ribu, hanya cukup untuk makan," kilahnya.
Efi sadar bahwa mengajak anaknya untuk mengemis di jalanan adalah kesalahan. Akan tetapi, beralaskan himpitan ekonomi ia tetap mengikutsertakan anaknya.
"Saya tahu enggak boleh bawa anak. Saya tahu itu salah. Tapi ini semua saya lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup," sebutnya.
Hal senada juga dikatakan Rini Sibuea yang sudah enam bulan menjalani pekerjaan sebagai pengemis. Dia memilih menjadi peminta-minta setelah ditinggal mati sang suami. Dia turut membawa anaknya RP (6) dan A (1,5). Sedangkan D (4) ditinggalnya karena ada sakit sesak.
"Saya sempat kerja tapi tak bertahan lama. Kadang dapat Rp 50 ribu, tapi mau juga enggak ada dapat. Ini hanya untuk menutupi kebutuhan hidup. Saya banyak utang, makanya harus kerja begini," akunya.
Soal mengapa bisa sering pergi bersama dengan yang lain, Rini mengatakan itu hanya kebetulan bertemu di jalan. Dan ia mencoba menyakinkan bahwa tidak ada setor kepada siapapun. Katanya, hasil mengemis murni untuk dirinya sendiri.
"Saya tahu salah mengemis bawa anak," katanya.